Search This Blog

Hikmah adalah makna yang terkandung dalam sebuah peristiwa. Begitu KBBI menjabarkannya.  Namanya makhluk hidup, tak mungkin jika tanpa ki...

Hikmah adalah makna yang terkandung dalam sebuah peristiwa. Begitu KBBI menjabarkannya. 
Namanya makhluk hidup, tak mungkin jika tanpa kisah. Tak mungkin pula tiada peristiwa. Aku sering mengatakan, hidup ini sebuah perjalanan. Jika makhluk hidup tak memiliki kisah atau peristiwa, mustahil akan tercipta sebuah sejarah. Sebuah kenangan masa lalu yang sudah terlewati. Yang namanya hidup berarti ada sebuah pergerakan, ada sebuah guratan hingga melahirkan halaman-halaman kisah sejarah dan mencatat peristiwa penting.
Sama dengan halnya saat ini. Kelak sejarah akan mencatat apa yang sedang terjadi dan dialami oleh makhluk hidup, terutama umat manusia. Sudah hampir satu bulan lamanya, semua media masa mengabarkan dan menginformasikan tentang suatu wabah yang menyerang beberapa negara. Terutama Indonesia.

Ibarat aktor, wabah ini sedang menduduki masa kejayaan. Namanya kini sedang naik daun. Setiap hari informasi update mengabarkan tentang masalah dan masalah. Kenapa masalah? Karena selalu mengabarkan kekhawatiran serta kepanikan yang berlebih. Memang tak semuanya, tapi kebanyakan. 
 Belum lagi iblis selalu mengambil peran, ikut membakar kekhawatiran serta kepanikan yang semakin menjadi. Membuat sekelompok manusia menjadi hilang akal, apatis, bahkan sombong.
Sebuah wabah yang konon katanya muncul dan berawal dari seekor hewan dan virus ini mematikan. Virus yang belum ada obatnya. Virus yang membuat porak poranda tatanan sebuah negara. Virus yang diberi nama Covid-19 (entah siapa yang pertama kali menamai virus ini, mungkin para medis lebih paham). 
Sebuan hastag diRumahAja kemudian mencuat. Semua aktifitas luar terbatas!. Sekolah diliburkan belajar di rumah, bekerja dari rumah (tapi pegawai pabrik nggak), hingga ibadah pun di rumah. 
Mobilitas dibatasi! Konon, semua itu dilakukan untuk mencegah penyebaran virus yang semakin menjadi. 
Katanya, virus ini bisa menular melalui sentuhan atau percikan air liur yang kemungkinan keluar ketika bersin dan batuk. Sehingga setiap pribadi harus mawas diri. Jaga jarak aman minimal 1 meter (sosial distancing/psikal distancing), rajin mencuci tangan, menyemprot disinfektan, dan pada intinya menuju kearah pola hidup bersih. 
Terlepas dari semua hal di atas. Kali ini izinkan saya bertanya, Pernahkah anda mencoba merenungkan terkait virus yang tak nampak ini?. Kenapa pula bisa sangat yakin bahwa virus ini benar adanya? 
Tidakkah berfikir bahwa, mungkin ini hanya sebuah drama yang sengaja dibuat oleh beberapa kelompok manusia lain dalam kelas dunia. 
Berbicara tentang keyakinan, saya rasa semua manusia memiliki sebuah kepercayaan masing-masing terhadap apapun itu. Begitu pula dengan virus yang satu ini. 
Terkait sebuah kepercayaan dan keyakian, seorang muslim menyebutnya dalam istilah iman. Muslim memiliki pondasi yang para ulama menyebutnya rukun iman terdiri dalam 6 butir salah satunya adalah Iman kepada hal yang gaib (Tuhan, malaikat, jin dan bala tentaranya, bahkan virus). Yang harus ditekankan adalah posisi tertinggi dari iman kepada hal yang gaib adalah manusia meyakini adanya Tuhan semesta alam. Berarti malaikat dan seterusnya hanyalah sebuah ciptaannya.
Jila melihat dengan kacamata iman, mungkin ada maksud yang ingin Tuhan sampaikan kepada makhluknya yang lain (dalam hal ini manusia) dengan mengutus makhluk yang bernama virus. Untuk apa? Saya pribadi tam bisa menjawab. Namun saya hanya bisa mengira serta menerka-nerka.
Mungkin, maksud dari Tuhan mengutus makhluk ini ingin menyampaikan pesan kepada manusia bahwa bumi butuh bernafas sedikit. Bumi sudah merasakan sesak dengan asap kendaraan yang hampir 24 jam mengepul ditambah dengan asap pabrik. Maka dari itu, setiap manusia yang terjangkit virus ini salah satu gejalanya adalah sesak nafas. Agar manusia paham, bumi juga bisa merasakan sesak oleh tingkahnya. 
Tak hanya kendaraan, tapi bumi juga mulai kesal dengan tingkah manusia yang sudah sangat jauh dari sebuah aturan. Hormat kepada sesama atau bahkan yang lebih tua sudah memudar. Mengotori bumi dengan tingkah pergaulan yang bebas (sex bebas, minuman keras, narkoba) maka dari itu salah satu pencegahannya dengan tak adanya sentuhan. JAGA JARAK AMAN!. Dan salah satu gejala yang lain untuk mereka yang terkena adalah batuk. 
Itu hanya beberapa kemungkinan yang ingin Tuhan sampaikan. Seolah mengingatkan pula bahwa dengan virus yang tak kasat mata serta mematikan saja takut. Kenapa tidak demikian kepada yang menciptakan virusnya? Manusia terlalu pongah. Melaui virus ini pula barangkali Tuhan ingin menyampaikan bahwa semua sama dimata-Nya. Virus ini tak memilah dan memilih akan menyerang si kaya atau si miskin, pejabat atau rakyat, yang gagah ataupun yang lemah. Semuanya dapat terkena dan terserang virus ini. 
Melalui virus ini, banyak sekali yang Tuhan sampaikan. Tapi tak semua manusia yang menerima pesan itu dengan baik. Mereka sudah terlanjur mengambil peran menjadi sombong, serakah, apatis, dan yang lainnya. 
Pada akhirnya semua kembali kepada masing-masing pribadi. Akan mengambil peran yang mana, serta seyakin apa dengan keberadaan-Nya. 
Tuhan maha baik, Dia selalu memberikan pilihan. Tentu dengan hak prerogatif-Nya.
Manusia bebas memilih, alangkah lebih baik memilih pilihan yang tepat sesuai yang Tuhan arahkan.
Semoga saya, anda bisa menangkap pesan-pesan Tuhan dengan baik. 


Hari ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Begitu sekiranya kalimat yang saat ini terungkap. Tersebab sebuah wabah yang beberapa bula...


Hari ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Begitu sekiranya kalimat yang saat ini terungkap. Tersebab sebuah wabah yang beberapa bulan lalu muncul dari salah satu negara. Awalnya semua mengira baik-baik saja dan tidak akan berdampak apapun kepada negara lain. Kehidupan di negara yang lain (saat itu belum terkena wabah) berjalan seperti biasanya.

Tapi, siapa yang mengira, wabah yang awalnya hanya berada di suatu wilayah kini tersebar meluas ke beberapa negara tetangganya. 

Wabah ini disebabkan oleh sebuah virus yang begitu cepat bergerak mencari tempat singgah demi kelangsungan hidupnya. Tanpa peduli kelak yang disinggahi akan berdampak seperti apa. Yang jelas, yang paling rugi adalah ketika virus ini hinggap di dalam tubuh manusia. Egois memang makhluk yang satu ini.

Tapi, manusia lebih egois aku pikir. Mungkin virus menyebar secara berkelompok. Tak seorang diri. Sedangkan manusia? Ah entahlah...

Keadaan kini sudah berbeda, manusia mulai panik dengan tingkat ke egoan yang berbeda. Berbagai macam respon yang mencuat dikalangan manusia.

1. Hilang akal

Kenapa diakatakan demikian? Karena ada manusia-manusia yang berubah menjadi makhluk yang arogan dan apatis. Dengan kemampuan yang dimiliki, bergerak membabi buta. Memborong hal-hal yang tidak seharusnya. Dirinya merasa aman dan yang lain menjerit-jerit tanpa suara.

2. Santuy

Yang kedua ini tak ada bedanya dengan yang pertama. Tingkat keyakinan kepada Tuhan muncul dengan tinggi. Katanya selama Tuhan belum berkehendak kenapa harus takut dengan makhluk kecil tak kasat mata ini. Mengingat Tuhan hanya untuk pembelaan dan kesenangan nafsu. Apa bedanya dengan yang pertama.

3. Tidak Panik, Ikhtiar dan Tawakal

Dalam kondisi dunia yang sudah porak poranda seperti ini. Sungguh yang perlu dilakukan pertama kali adalah jangan panik, supaya berpikir jernih. Lakukan ikhtiar sebisa mungkin untuk kamu melakukannya. Hasil akhir serahkan kepada Tuhan. Mengambil porsi sebagaimana makhluk. Percaya bahwa wabah yang mengguncang dunia juga atas kehendak-Nya. Tetap menjadi hamba yang bergantung hanya kepada-Nya setelah ikhtiar dilakukan. 

Sepatutnya dan selayaknya alangkah lebih baik jika manusia merespon wabah ini dengan respon yang ketiga. 

Pada awalnya semua baik-baik saja. It's Ok, yeah!. Dan seharusnya semua juga akan berakhir baik-baik saja.

Yakin, semua akan baik-baik saja? Harus!. Kenapa manusia harus menjadi heboh ketika banyak yang tergeletak lemas bahkan sampai nyawa itu terlepas dengan raga. Bukahkan semua manusia kelak akan mati?. Bukan takut diri akan mati, tapi ambil peran. 

Ketika dunia sedang tidak baik-baik saja, manusia tak harus otomatis dan ikut seperti dunia menjadi tidak waras dan tidak baik. Duduk sebentar, tenangkan pikiran dan mulailah berpikir jernih. Damaikan diri untuk menghadapi dunia.

Semua akan baik-baik saja, selama keyakinan (iman) masih lurus vertikal kepada Tuhan. 

Menghadapi wabah ini alngkah baiknya dengan menggunakan kacamata iman dalam menghadapi dunia yang sedang tidak baik. Ada misi apa Tuhan mengirimkan tentaranya yang tak kasat mata memporak porandakan dunia, ditekankan sekali lagi. Jawabannya harus dengan kacamata iman. Bisa jadi, Tuhan sangat rindu kepada manusia. Karena terlalu banyak manusia yang mengambil peran-Nya. 

Tuhan ingin manusia mendekat lagi kepada-Nya. 

Ambil dari segala sisi kacamata kehidupan. Semua akan kembali baik-baik saja. Dunia akan kembali baik-baik saja. Dunia hanya ingin sedikit bernapas lega, ambil hikmahnya. Jangan PANIK!, TETAP IKHTIAR, JAGA KESEHATAN, HIDUP BERSIH. I'll Protect You, You Protect Me. Saatnya menjadi satu tubuh. Salam semangat.













Wah keren, dia bisa kuliah di kampus ternama. Wah keren, dia bisa lulus dengan predikat cumlaude. Wah keren, dia udah jadi dosen aja. ...

Wah keren, dia bisa kuliah di kampus ternama.
Wah keren, dia bisa lulus dengan predikat cumlaude.
Wah keren, dia udah jadi dosen aja.
Wah keren, dia udah punya rumah dan mobil.
Wah keren, dia udah ke luar negri.
Wah, wah, wah, wah, wah, wah,
Mau sampai kapan? Selalu mengagumi orang lain dan menjadi penonton kesuksesan orang lain? 

Kenapa harus menjadi penonton kalau bisa jadi seorang pemain. Bukankah semua berpeluang sama?

Jadi, tentukan sekarang juga bahwa 'aku bisa menjadi pemain!' 

Menjadi seorang penonton, memang begitu asik, bisa berkomentar sepuasnya dan terkadang ikut merasakan sensasinya. Tapi menjadi pemain jauh lebih terasa sensasinya, dan tentunya tak banyak komentar.

Minder, satu kata yang membunuh segala optimisme. Mengubah semua yang mungkin menjadi tak mungkin. Mengubah potensi menjadi gengsi dan satu kata yang pasti akan membunuh untuk berkembang, berhenti tiada arti.

Bukankan manusia adalah makhluk yang sempurna yang diciptakan-Nya?. Tuhan yang mengatakan bahwa manusia itu sempurna. Bukan dia tetanggamu saja, bukan temanmu saja, bukan orang-orang tertentu saja yang memiliki kesempurnaan itu. Dia menyebutkannya secara global bukan khusus. Selama menjadi manusia berarti masih menjadi makhluk yang paling sempurna komplit dengan akal serta memiliki potensi dan peluang yang sama.

Tapi, pada kenyataannya manusia menemukan apa yang dicapainya berbeda. Tak perlu bertanya kenapa, karena semua manusia yang berpikir pasti sudah mengetahui jawabannya.

Banyak faktor yang membuat manusia pada akhirnya berbeda dalam menjalani kehidupannya serta kesuksesannya. 

Tentu salah satu faktornya adalah lingkungan dimana manusia itu berkembang. 

Karena manusia tak bisa lepas dari sebuah lingkungan disebabkan label yang melekat dalam dirinya yaitu sebagai makhluk sosial. Manusia adalah makhluk sosial yang pasti akan membutuhkan yang lainnya untuk dapak bertahan hidup.

Lingkungan itu bermacam-macam. Ada lingkungan keluarga, lingkungan bermain dan lingkungan sekolah. Jika manusia sudah bertumbuh dewasa dan menjadi pekerja maka akan ada lingkungan kerja.

Semua yang disebutkan adalah salah satu faktor dalam berkembangnya kehidupan manusia. Selain itu, ada faktor lain yaitu faktor diri. Bisa jadi faktor lingkungan dengan diri seimbang 50:50, atau bisa jadi faktor lingkungan lebih besar dari pribadi pun sebaliknya. 

Hematnya begini "Jika A hidup dalam lingkungan yang positif kemudian dirinya juga sudah terinstal dengan hal-hal yang positif, maka A memiliki hidup yang seimbang" Tapi akan berbeda "Jika A hidup dalam lingkungan yang positif namun dalam dirinya sudah terinstal hal-hal negatif, maka lingkungan sebagus apapun tak akan mempengaruhi A"

Jadi, pada intinya semua dikembalikan kepada diri masing-masing. Mau terus menerus menjadi penonton melihat kesuksesan orang lain atau mulai menjadi pemain untuk mencapai kesuksesan itu.

Minder, jangan!. Katakan tidak untuk menjadi manusia yang minder. Percayalah, itu hanya akan membuat jiwa manusia menjadi miskin. Selalu haus akan nafsu tapi tak mau bersusah payah. 

Jangan menjadi manusia yang minder. Mulai saat ini, detik ini juga katakan terhadap diri bahwa 'aku adalah pemain' sutradaraku adalah yang terbaik, yakni Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Semesta Alam, dan Tiada Tuhan selain Dia. Dengan begitu, maka manusia itu Akan menjadi pemain yang luar biasa. Menggunakan segala potensi dan peluang secara maksimal. Menjadi manusia sempurna dan unggul dari makhluk lainnya.

So, menjadi manusia minder?, Jangan!.






Pernah gagal? Seberapa sering? Satu kali? Dua kali? Atau berkali-kali? Aku hanya ingin mengucapkan selamat! Untuk kalian yang gagal tap...

Pernah gagal? Seberapa sering?
Satu kali? Dua kali? Atau berkali-kali?
Aku hanya ingin mengucapkan selamat! Untuk kalian yang gagal tapi tak pernah menyerah dan mundur. Meski kegagalan datang berkali-kali hingga ribuan kali.

Aku ingatkan sekali lagi "kegagalan adalah sukses yang tertunda"

Bukan kenapa gagal, tapi seberapa kuat dan mampu bangkit kembali setelah gagal. Menjadi manusia yang lebih siap dan matang dalam menyusun sebuah rencana.

Kita semua memiliki potensi yang sama, kita semua memiliki peluang yang sama. Hanya saja terkadang kita malu untuk memaksimalkan potensi tersebut. Hanya saja seringkali kita melewatkan peluang-peluang yang ada.

Misalnya seperti ini : kamu saat ini sedang duduk dibangku kelas XII, dimana saat ini kamu sedang dihadapkan dengan beberapa pilihan. Setelah lulus, kamu bisa memilih untuk bekerja atau kuliah melanjutkan ke jenjang berikutnya yang lebih tinggi. Atau mungkin, jika kamu seorang perempuan yang tinggal di sebuah perkampungan yang masih sangat kental adat dan budaya perihal perjodohan tidak menutup kemungkinan untuk kamu (khususnya perempuan) dihadapkan dengan pilihan yang lainnyaa yaitu menikah (dijodohkan)

Well, semua keputusan ada ditanganmu.

Semua yang disebutkan adalah peluang dalam menentukan kehidupanmu yang akan datang. Ingin seperti apa dan bagaimana.

Jika melihat kasus di atas, yang sering menemukan kegagalan adalah ketika memilih untuk melanjutkan pendidikan atau melamar pekerjaan (atau berwirausaha).

Ketika mulai mendaftar ke salah satu perguruan tinggi negeri yang sejak lama sudah diidamkan. Berusaha mati-matian, belajar semampu yang bisa dilakukan tapi pada akhirnya ternyata gagal. 

Ketika gagal inilah pilihan sesungguhnya dimulai. Memilih untuk menyerah dan meninggalkan mimpi atau mencoba kembali ditahun berikutnya.

Pun sama, jika pilihan itu perihal pekerjaan. Sudah berpuluh-puluh surat lamaran kerja dikirim ke berbagai perusahaan dari Sabang sampai Merauke. Tapi belum ada satupun yang memanggil untuk tes kerja. Satu bulan, dua bulan bahkan satu tahun menunggu. Lantas, sudahkah disebut gagal? Menyerah kemudian berstatus pengangguran selamanya atau terus mencoba sampai berhasil, itulah pilihan sesungguhnya yang harus dipilih.

Tak hanya dalam dua hal tersebut. Teruntuk upaya dalam hal apapun. Kegagalan pasti akan menghampiri. 

Bukan kenapa gagal, tapi sudah bangkitkah setelah mengalami kegagalan?

Jika baru menemukan kegagalan beberapa kali kemudian menyerah, apakabar dengan Thomas yang mengalami kegagalan hingga ratusan kali melakukan percobaan lampu pijar sampai akhirnya kegagalan itu bisa dinikmati oleh penduduk bumi hingga saat ini. 

Apakabar dengan J.K Rowling yang pernah mengalami kehidupan teramat getir. Berstatus janda karena cerai, menderita penyakit dan pengangguran dengan dua orang anak. Film Harry Potter yang banyak dikagumi masyarakat adalah hasil dari karyanya.

Lalu, bagaimana dengan Stephen King yang mengalami 30 kali penolakan oleh penerbit dalam novel pertamanya yang berjudul Carrie hingga pada akhirnya novel itu sudah ratusan kali dicetak ulang.

Seorang ilmuan Einstein yang mengalami keterlambatan dalam berbicara hingga usia 4 tahun tapi kini teori relativitasnya digunakan dalam dunia pendidikan.

Menteri pendidikan saat ini, Nadiem Makarim dalam bisnis angkutannya Go-jek mengalami vakum 1 tahun dan terancam bangkrut tapi kini angkutan Go-jek masih bisa dinikmati dan banyak membantu dalam memudahkan transportasi. 

Satu lagi, mantan Menteri kelautan Susi Pudjiastuti yang mengalami Drop Out ketika duduk dibangku SMA. Kemudian memilih menjadi seorang pebisnis hingga saat ini.

Beberapa nama-nama yang disebutkan adalah mereka yang lebih memilih bangkit setelah menemukan kegagalan. Tidak berpasrah dengan nasib dan keadaan. Membuang jauh-jauh pikiran negatif dalam diri. Bahkan mungkin menutup telinga dengan cibiran manusia sekitarnya. 

Satu ayat penutup sebagai pengingat

"..... Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri....."

(QS. Ar-Ra'd : Ayat 11)

Pilihan ada dalam genggaman. Orang yang kuat adalah mereka yang terus bangkit setelah menemukan kegagalan.




Salam semangat dari kantor MA Ash-Shalah Kaliwadas, Sumber-Cirebon

Hari ini, 8 Maret 2020 jatuh pada hari ahad adalah tanggal untuk memperingati hari perempuan internasional. Sekilas kita flashback t...

Hari ini, 8 Maret 2020 jatuh pada hari ahad adalah tanggal untuk memperingati hari perempuan internasional.

Sekilas kita flashback tentang perempuan terdahulu. Jika berkaca kepada sejarah islam terkhusus melihat bangsa Arab, betapa seorang perempuan tak ada harganya sama sekali. Dipandang sebelah mata, tak punya reputasi. Bahkan setiap bayi perempuan yang lahir dikubur hidup-hidup.

Sampai pada akhirnya Allah mengutus seorang laki-laki yang pada akhirnya menjadi penutup para nabi serta membawa misi rahmatan lil 'alamin sehingga perempuan diangkat derajatnya dan menjadi terhormat.

Meninggalkan sejarah para nabi, Indonesia juga memiliki sejarah tentang perempuan. Raden Ajeng Kartini atau biasa orang menyebutnya dan menuliskannya R.A Kartini. Pahlawan perempuan dari kalangan priayi, yang sering membaca tulisan-tulisan untuk mengetahui dunia luar. Emansipasi wanita, itulah yang dibawa oleh R.A Kartini untuk mengangkat kedudukan perempuan sehingga bisa setara dengan laki-laki. Perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki dalam hal mencari ilmu serta dalam kehidupan sosial.

Hari perempuan internasional juga di latar belakangi oleh sebuah peristiwa yang terjadi 50 tahun silam. Dimana seorang buruh perempuan menuntut hak terkait upah yang didapat sangat rendah dan dibubarkan secara paksa pada tanggal 8 Maret tersebut. 

Kemudian pada tahun 1977, Hari Perempuan Internasional diresmikan sebagai perayaan tahunan oleh perserikatan bangsa-bangsa (PBB) untuk memperjuangkan hak perempuan dan mewujudkan perdamaian dunia. (Wikipedia, 08-03-2020)

Jika kita membedah sejarah, sangat banyak kisah tentang perempuan-perempuan yang hebat. 

Perempuan itu sangat berharga, maka jangan sekali-kali menjatuhkan harga dengan murah atau mungkin menjadikannya tak memiliki nilai. 

Teruntuk para perempuan yang membaca tulisan ini, aku hanya ingin berbagi semangat bahwa perempuan hebat itu bukan yang merendahkan laki-lakinya. 

Bukan karena karirmu lebih tinggi lantas kamu dengan sombong merendahkan lelaki. Kamu tetap hebat tanpa merendahkan orang lain.

Dewasa ini, aku merasa heran. Kepada perempuan yang lebih memilih menyerah dalam hidup dengan mengakhiri kehidupannya. Atau bahkan merelakan kesuciannya untuk dapat bertahan hidup. 

Tidakkah sedikit menghargai perjuangan perempuan-perempuan terdahulu, yang telah bersusah payah supaya perempuan tak lagi dipandang sebelah mata dan kembali terinjak.

Gerbang sebuah peradaban adalah perempuan. Jika perempuan saat ini lebih memilih untuk diam. Lebih memilih untuk menjad lemah dan lebih parahnya memilih menjadu tak ternilai. Bagaimana kelak sebuah bangsa akan menuju sebuah peradaban yang lebih maju. 

Teruntuk perempuan, dimanapun kalian berada. Saat ini dan untuk seterusnya, jadilah sebuah perempuan yang akan membawa generasi menuju peradaban lebih maju.



Dalam rinai hujan, dalam hati yang tak tentu. Selamat bermalam senin. Salam manis dari gadis desa yang berjuang untuk optimis :D.

Cirebon, 08-03-2020

Coba baca secara perlahan patahan kata Ba-Ha-Gi-A.  Ba-nyakin bersyukur Ha-rus lebih banyak bersyukur Gi-manapun kondisinya tetap b...

Coba baca secara perlahan patahan kata Ba-Ha-Gi-A. 

Ba-nyakin bersyukur
Ha-rus lebih banyak bersyukur
Gi-manapun kondisinya tetap bersykur
A-papun yang sedang menimpa diri tetap bersyukur.

Sekarang, tanyakan pada diri sendiri, aku sudah bahagia belum ya? Sudahkah menemukan hakikat dari bahagia itu sendiri? 

Banyak yang mendefinisikan bahwa, bahagia adalah memiliki segala sesutau yang diinginkan. Apakah benar demikian? Jika benar, berarti banyak sekali manusia di muka bumi ini yang tidak merasakan kebahagiaan. 

Seperti yang kita ketahui, di Indonesia misalnya. Jika definisi bahagia memiliki segala yang diinginkan, berarti benar Indpnesia ini masih termasuk negara yang miskin. Karena hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melakukan hal demikian.

Fakta dilapangan, sangat banyak sekali komunitas-komunitas sosial yang sebenarnya mereka belum memiliki semua yang ingin dimilikinya tapi mereka mau membantu sesama dengan menyisihkan beberapa keping receh. Bisa jadi itulah kebahagiaan yang mereka temui di lapangan. Sesederhana itu menemukan bahagia bagi mereka.

Bandingkan, mana yang lebih bahagia. Orang yang memakan rendang tapi giginya sakit atau orang yang memakan telur dadar dengan nikmat. Orang yang memiliki rumah gedong tapi terkena kanker stadium IV atau orang yang rumahnya masih ngontrak tapi sehat. 

Dari contoh di atas, pastilah kalian ingin membuat perbandingan lain. Makan rendang, gigi tidak sakit. Punya rumah gedong dan tidak mengidap penyakit apapun. 

Well, pada akhirnya kebahagiaan adalah masalah faktor yang substantif yaitu kesehatan itu yang pernah aku dengar dari Buya Syakur. Apakah akan muncul rasa bahagia jika dalam kondisi gigi sakit kemudian makan rendang. Bukankah ketika sakit konsentrasi kita buyar, bukan nikmat rendang yang dirasa melainkan rasa sakit gigi yang senut senut. Berbeda dengan ketika makan telur dadar dalam kondisi sehat. Konsentrasi kita tentu saja ada terhadap telur dadar yang ada didepan mata. Melihat yang ada dalam genggaman sebuah telur dadar, masuk ke dalam mulut dan diteruskan ke lambung ya tetap telur dadar. Sehingga nikmatlah rasa telur dadar itu. Jadi bahagia adalah apa yang ada didalam genggaman, dan konsentrasi menikmati yang kita miliki saat ini. 

Memang manusia itu aneh, selalu menginginkan apa yang orang lain miliki tapi lupa terhadap apa yang dimiliki dalam diri. Lagi-lagi harus berdalih rumput tetangga lebih hijau. 

Manusia terlalu memanjakan mata, seperti ketika melihat orang lain sedang memakan es krim rasa strawbery timbul rasa ingin memakannya, padahal ditangan sendiri sedang menggenggam stick es krim rasa strawbery juga. Hanya saja bentuk dari es krimnya berbeda. 

Seringkali kita selalu lupa terhadap diri yang sudah sangat banyak diberikan nikmat oleh Tuhan. Lagi-lagi kita melihat ke atas dalam hal duniawi. Menjadikan diri haus dan selalu merasa kurang. Selalu memberi makan nafsu tapi tidak pernah memberi makan ilmu dan ruh.

Pada akhirnya, bahagia itu sangat sederhana. Sesederhana kita bisa mensyukuri apa yang dimiliki. Bukan apa yang orang lain miliki. Kunci dari sebuah kebahagiaan adalah jiwa yang senantiasa lapang menerima segala ketetapan Tuhan. Pikiran yang senantiasa konsen terhadap diri dan senantiasa sadar atas nikmat yang tidak pernah ternilai dengan materi. 

Sekarang, tanyakan kembali pada diri pertanyaan di atas. Sudahkah kita mendapatkan jawaban untuk bahagia? 

Selamat berbahagia untuk kita semua. Selamat menjadi manusia yang senantiasa bersyukur untuk saat ini, esok dan selamanya. 

Tepat, kemarin lusa dunia hiburan digemparkan dengan sebuah berita yang membuat netizen tercengang dan sulit percaya akan kabar berita ters...

Tepat, kemarin lusa dunia hiburan digemparkan dengan sebuah berita yang membuat netizen tercengang dan sulit percaya akan kabar berita tersebut. Seorang artis, aktor juga pemain sinetron yang masih gagah dan tampan dikabarkan meninggal dunia karena serangan jantung. Seketika berita ini menjadi viral sampai saat ini. 

Lalu, masih ada saja orang yang berkata “Taubat? Besok aja,” atau bahkan dengan sangat penuh percaya diri, nanti saja kalau sudah lanjut usia taubatnya. 

Huuuffftttt... tarik nafas panjang lalu hembuskan dengan luapan emosi jika mendengar jawaban dari pertanyaan tersebut. Sungguh, begitu sulit untuk dimengerti dengan jalan pikiran mereka yang berkata demikian. Kenapa mereka begitu yakin akan memiliki usia sampai lanjut usia. Kenapa mereka begitu yakin mereka pasti akan berjumpa dihari esok. Padahal beberapa detik, menit, jam hingga esok yang akan datang bukankah masih menjadi sebuah misteri? Apakah lupa dengan kalimat bahwa manusia hanya sebagai perencana, masalah terjadi atau tidak itu adalah kuasaNya. 

Pernahkah bertanya dalam diri, kenapa dalam sebuah forum ibu-ibu pengajian tidak terdapat anak-anak muda?. Apakah karena ada label kata ‘ibu’ sehingga remaja tidak ada didalamnya? Atau memang karena kalimat-kalimat yang terlontar di atas? Nanti saja, masih muda ini, nikmati saja dulu hidup. Sudah tua baru mencari bekal. 

Padahal, sudah berapa banyak kejadian disekitar yang menjelaskan bahwa kuasa sesungguhnya hanya ada pada-Nya. Salah satunya adalah contoh kisah artis di atas. Siapa yang mengira bahwa dia akan meninggal diusianya yang masih tergolong muda itu? Padahal, disaat yang bersamaan ada dibelahan dunia atau mungkin tetangga desa yang sudah renta dan sakit-sakitan tapi masih diberikan nafas oleh-Nya. 

Kejadian seperti ini bukan hanya satu atau dua kali terjadi disekitaran. Mungkin sudah sangat sering. Tapi kenapa masih tetap saja manusia itu bebal, dan terlalu yakin akan hal yang masih sangat tidak pasti. 

Anehnya lagi, kenapa harus menunggu nanti, jika ingin melakukan kebajikan. Kenapa harus menunggu menjadi renta untuk menyiapkan bekal. Apakah ada sebuah jaminan, bahwa hidup seorang manusia tergantung dari setiap pribadinya selama yang dia inginkan. Tapi sayangnya, jaminan itu tidak ada dan tidak akan pernah ada. 

Tidakkah sejak saat ini mulai berfikir, mulai berbenah dan mulai melakukan hal-hal yang lebih berguna dalam kehidupan, karena yang sangat dekat adalah maut (kematian). Kata ‘nanti’ seolah senjata dan menggambarkan bahwa tidak adanya penghargaan terhadap sebuah waktu. Nantinya kita itu tidak pernah sama dengan nanti akan kuasaNya. 

Waktu itu seperti sebuah pisau, jika bisa menggunakannya dengan baik maka akan bergunalah dia dan sangat bermanfaat bahkan dibutuhkan. Tapi, jika dibiarkan begitu saja dia akan lapuk dimakan karat, tidak berguna dan tidak berfungsi. Bahkan fatanya, bisa jadi dia dipergunakan oleh yang lain dan membunuhmu. 

Perihal waktu, dia tidak bisa bergerak mundur, yang dia tahu hanya bergerak maju. Pernahkah melihat atau mendengar begitu banyak orang yang menyesal hanya karena waktu. Meronta kemudian berandai-andai ingin kembali lagi ke masa yang sudah dilalui. Ingin berbenah dari waktu yang sudah terlewati. Bahkan, orang yang sudah meninggal sekalipun menyesal dan memohon untuk dikemabalikan lagi ke dunia dan memperbaiki diri. Tapi sangat disayangkan, jika badan sudah masuk kedalam liang lahat itu berarti sudah sangat terlambat untuk bisa memperbaiki semuanya. 

Jika sudah mengetahui hal-hal demikian, kenapa masih saja memilih untuk menjadi bebal? Setidaknya tidak perlu berandai-andai ingin kembali ke masa beberapa detik, menit, jam dan hari yang telah lalu. Saat ini berhentilah berandai-andai, selama badan belum masuk ke dalam liang, mulailah kembali dari awal. Biarkan yang lalu menjadi sebuah pelajaran yang sangat berharga dalam kehidupan. Berpacu maju dan bergarak ke depan untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi. Mengubah kata ‘nanti’ menjadi ‘sekarang’. Mengubah kalimat ‘nanti saja’ menjadi ‘lebih baik sekarang’. 

Taubat? Jangan tunggu nanti. Karena tidak ada jaminan dalam kata nanti. Lakukan sekarang, jika tidak ingin menyesal kemudian.