Search This Blog

Hari ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Begitu sekiranya kalimat yang saat ini terungkap. Tersebab sebuah wabah yang beberapa bula...

Semua Akan Baik-Baik Saja


Hari ini, dunia sedang tidak baik-baik saja. Begitu sekiranya kalimat yang saat ini terungkap. Tersebab sebuah wabah yang beberapa bulan lalu muncul dari salah satu negara. Awalnya semua mengira baik-baik saja dan tidak akan berdampak apapun kepada negara lain. Kehidupan di negara yang lain (saat itu belum terkena wabah) berjalan seperti biasanya.

Tapi, siapa yang mengira, wabah yang awalnya hanya berada di suatu wilayah kini tersebar meluas ke beberapa negara tetangganya. 

Wabah ini disebabkan oleh sebuah virus yang begitu cepat bergerak mencari tempat singgah demi kelangsungan hidupnya. Tanpa peduli kelak yang disinggahi akan berdampak seperti apa. Yang jelas, yang paling rugi adalah ketika virus ini hinggap di dalam tubuh manusia. Egois memang makhluk yang satu ini.

Tapi, manusia lebih egois aku pikir. Mungkin virus menyebar secara berkelompok. Tak seorang diri. Sedangkan manusia? Ah entahlah...

Keadaan kini sudah berbeda, manusia mulai panik dengan tingkat ke egoan yang berbeda. Berbagai macam respon yang mencuat dikalangan manusia.

1. Hilang akal

Kenapa diakatakan demikian? Karena ada manusia-manusia yang berubah menjadi makhluk yang arogan dan apatis. Dengan kemampuan yang dimiliki, bergerak membabi buta. Memborong hal-hal yang tidak seharusnya. Dirinya merasa aman dan yang lain menjerit-jerit tanpa suara.

2. Santuy

Yang kedua ini tak ada bedanya dengan yang pertama. Tingkat keyakinan kepada Tuhan muncul dengan tinggi. Katanya selama Tuhan belum berkehendak kenapa harus takut dengan makhluk kecil tak kasat mata ini. Mengingat Tuhan hanya untuk pembelaan dan kesenangan nafsu. Apa bedanya dengan yang pertama.

3. Tidak Panik, Ikhtiar dan Tawakal

Dalam kondisi dunia yang sudah porak poranda seperti ini. Sungguh yang perlu dilakukan pertama kali adalah jangan panik, supaya berpikir jernih. Lakukan ikhtiar sebisa mungkin untuk kamu melakukannya. Hasil akhir serahkan kepada Tuhan. Mengambil porsi sebagaimana makhluk. Percaya bahwa wabah yang mengguncang dunia juga atas kehendak-Nya. Tetap menjadi hamba yang bergantung hanya kepada-Nya setelah ikhtiar dilakukan. 

Sepatutnya dan selayaknya alangkah lebih baik jika manusia merespon wabah ini dengan respon yang ketiga. 

Pada awalnya semua baik-baik saja. It's Ok, yeah!. Dan seharusnya semua juga akan berakhir baik-baik saja.

Yakin, semua akan baik-baik saja? Harus!. Kenapa manusia harus menjadi heboh ketika banyak yang tergeletak lemas bahkan sampai nyawa itu terlepas dengan raga. Bukahkan semua manusia kelak akan mati?. Bukan takut diri akan mati, tapi ambil peran. 

Ketika dunia sedang tidak baik-baik saja, manusia tak harus otomatis dan ikut seperti dunia menjadi tidak waras dan tidak baik. Duduk sebentar, tenangkan pikiran dan mulailah berpikir jernih. Damaikan diri untuk menghadapi dunia.

Semua akan baik-baik saja, selama keyakinan (iman) masih lurus vertikal kepada Tuhan. 

Menghadapi wabah ini alngkah baiknya dengan menggunakan kacamata iman dalam menghadapi dunia yang sedang tidak baik. Ada misi apa Tuhan mengirimkan tentaranya yang tak kasat mata memporak porandakan dunia, ditekankan sekali lagi. Jawabannya harus dengan kacamata iman. Bisa jadi, Tuhan sangat rindu kepada manusia. Karena terlalu banyak manusia yang mengambil peran-Nya. 

Tuhan ingin manusia mendekat lagi kepada-Nya. 

Ambil dari segala sisi kacamata kehidupan. Semua akan kembali baik-baik saja. Dunia akan kembali baik-baik saja. Dunia hanya ingin sedikit bernapas lega, ambil hikmahnya. Jangan PANIK!, TETAP IKHTIAR, JAGA KESEHATAN, HIDUP BERSIH. I'll Protect You, You Protect Me. Saatnya menjadi satu tubuh. Salam semangat.













3 comments: